Tamu Pondok

Pondok ramai pagi-pagi
para santri mandi, wangi-wangi
konon akan ada tamu.

Siang berlalu,
tak nampak hidung tamu
zuhur, para santri salat lalu ganti baju.

Lega mereka
Nyambut tamu sebaik-baiknya
Tak penting selainnya.

– Kaliopak, Syawal 1440

Ngaji Posonan Islam Nusantara

Berkembangnya wacana Islam Nusantara hari ini sudah semestinya diimbangi dengan pemahaman yang menyeluruh, argumentatif dan tentunya konstruktif. Hal tersebut dibutuhkan agar gagasan Islam Nusantara dapat diwujudkan dalam kerangka keilmuan yang mendasar juga mudah dipahami sehingga menjadi benteng terdepan keberislaman kita di Indonesia hari ini.

Hal itulah yang ingin di suarakan Pondok Pesantren Budaya Kaliopak dalam  acara Ngaji Posonan Islam Nusantara di bulan Ramadhan tahun ini. Tema Merajut Kazanah Pengetahun Islam Nusantara, di ambil dalam acara ngaji yang konsepnya sangat berbeda dengan pondok pesantren salaf yang selama ini ada.

Sore Rabu, (5/5) pertengahan puasa, Pondok Pesantren Kaliopak tiba-tiba menjadi sibuk. Beberapa orang terlihat nongkrong di bawah pohon yang rimbun, sebagian lagi nampak menyiapkan acara di pendopo yang sudah di setting dengan dua sosok wayang Semar, dan Bagong yang mengapitnya. Gencarnya akun media sosial Istagram @pesantrenkaliopak mempublikasikan acara Ngaji Posonan dengan konten-konten yang menarik, sepertinya bisa mencerminkan kesibukan di hari itu dimana acara akan segera dimulai.

Konsep ngaji yang hanya 10 hari, dengan pilihan bentuk diskusi aktif hampir seperti seminar umum, peserta diajak untuk mengeksplor pengetahuannya terkait kondisi keberislaman di daerahnya masing-masing. Melalui kajian naskah, serat dan tema diskusi dari seluruh daerah Nusantara, Ngaji Posonan ini tak ubahnya seperti konsolidasi nasional yang di gawangi anak muda dalam membicarakan kondisi keberisalaman yang ada di Indonesia hari ini.

Walaupun seperti itu, kultur pesantren salaf masih sangat kental di acara Ngaji Posonan ini. Dengan sistem kekluargaan yang berusaha di bangun melalui partisipasi peserta untuk ikut terlibat menyiapkan makanan, membersihkan pondok dengan kelompok-kelompok yang dibuat. Kemudian ruang diskusi yang tidak berjarak satu sama lainya, membuat acara ini seperti lingkaran kebinekaan Nusantara yang berbeda tapi tetap satu tujuan.

Dalam pembukaan acara yang disampaikan pengasuh PP Kaliopak, Kiai M. Jadul Maula mengungkapkan, bahwa tema Merajut Kazanah Pengetahuan Islam Nusantara, sebenarnya sebuah upaya untuk menggali keilmuan Nusantara dari para ulama yang mempunyai peran signifikan dalam penyebaran Islam di Indonesia, “Jadi membahas Islam Nusantara sebenarnya tidak hanya diawali dari Muktamar NU tahun 2014, yang mengakibatkan makna Islam Nusantara menjadi sempit, dan kajian kita kali ini, ingin melepaskan itu semua dengan mengkaji naskah-naskah ulama Nusantara yang rata-rata sekitar abad ke 16-17” ujar Kiai Jadul dihadapan peserta yang mengikuti Ngaji Posonan.

Selain itu, di dalam naskah-naskah ulama yang di kaji seperti, Serat Lokajaya Sunan Kalijaga, kitab karangan Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Yusuf Al Makasari, Syeh Al Arsyad Al Banjari dan yang lainya. Semuanya mengandung nilai-nilai luhur yang sebenarnya telah membentuk mentalitas budaya keberislaman masyarakat kita selama ini yang harmonis dan estetis. Namun belakangan ini ketika melihat corak keberislaman yang hanya berorientasi Islam politik dan fiqih gagasan dari ulama Nusantara sering kali dikesampingkan bahkan di anggab syirik, bidah, dll.

Kiai Jadul Maula juga menambahkan bahwa Islam Nusantara sudah semestinya menjadi solusi atas krisis identitas kebangsaan kita hari ini, yang mana di dalam khazanah pengetahuan Islam Nusantara dengan berbagai bentuk tradisi yang tumbuh di tengah-tengah masyarakatnya dapat menjadi jawaban atas persoalan yang terjadi. Karna tradisi masyarakat merupakan ekspresi dari nilai-nilai kislaman yang didasarkan pada ajaran tasawuf, menjadi bentuk konkrit dari ajaran ulama nusantara yang mempunyai makna begitu dalam sehingga membentuk tata nilai pranata sosial yang harmonis dan estetis.

Maka menurut Kiai Jadul saat mengkaji Islam Nusantara kita tidak ingin kembali dan tenggelam ke masa lalu, namun sebaliknya mengkaji Islam Nusantara adalah bagian untuk melihat masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik. Berbekal dengan ajaran-ajaran ulama Nusantara diharapkan tercipta budi pekerti dan ahlak manusia yang baik untuk menjadi manusia seutuhnya.

Untuk mendekatkan peserta dengan tradisi masyarakat yang ada di nusantara, setiap sore menjelang buka puasa juga diadakan acara apresiasi seni tradisi dari seluruh Nusantara, mulai dari Aceh, Sulawesi, Mocopat Jawa, Minang, semuanya di kemas dengan perfrom dilanjut diskusi membedah nilai-nilai yang terkandung di dalam seni tradisi yang di tampilkan.

Menjelang buka puasa, pondok Kaliopak semakin ramai setelah peserta berkenalan satu-satu dan mengungkapkan kegelisahanya terkaiat Islam Nusantra, beduk azan akhirnya berkumandang. Rasa dahaga seharian akhirnya sedikit bisa dihilangkan, acara sore segera di tutup untuk berbuka puasa, raut muka bahagia akhirnya pecah saat peserta saling antri menunggu giliran mengambil makanan. Redaksi

Pesan Cinta Haidar Bagir Untuk Generasi Muda I Serambi Pesantren