Babad

Mengambil inspirasi dari nama sungai yang mengalir di tepian bangunannya, yaitu sungai (kali) Opak, Yayasan Pondok Pesantren Kaliopak berdiri sejak tahun 2004 di desa Klenggotan, Jalan Wonosari Km 11, Bantul, Yogyakarta.

Ponpes Kaliopak yang terdiri dari dua buah bangunan utama dan sebuah pendopo ini didesain secara khusus demi menopang kegiatan pengajian, kesenian, diskusi, pelatihan, atau sekadar rapat desa sehingga arsitekturnya dibuat secara luas, sederhana, serta bernuansa tradisional.

Dipimpin oleh Kiai Muhammad Jadul Maula, ponpes tersebut giat dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan, kesenian, intelektual, dan budaya. Berbagai kegiatan tersebut lahir sebagai wujud dari sebuah visi-misi mulia untuk mengembalikan nilai-nilai luhur Islam di dalam tradisi, seni dan budaya, sebagai akar bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Berbeda dengan jenis Pondok Pesantren pada umumnya, Ponpes Kaliopak meniti jalan di ranah kebudayaan, sehingga sering disebut sebagai Pesantren Budaya. Seperti halnya tarian Emprak –tarian tradisi yang menggunakan syair shalawat ciptaan Sunan Kalijaga– serta pertunjukan wayang kulit, kerapkali dipentaskan di sini. Dapat dikatakan bahwa Ponpes Kaliopak menjadi pioner utama dalam peran menghidupkan kembali seni-seni tradisi di wilayah Yogyakarta pada umumnya.

Hingga sejauh ini, Ponpes Kaliopak telah berhasil menyelenggarakan dua event besar yang saling erat berkaitan satu sama lain, yakni “Peringatan 500 Tahun Sunan Kalijaga” pada Juli 2011 dan “Milenium Kalijaga” di Oktober 2013.

Kedua acara tersebut tidak hanya merupakan sebuah pertunjukan seni belaka dimana pementasan wayang kulit berlangsung selama 11 hari 11 malam dengan memainkan 11 lakon, melainkan menjelma peristiwa budaya yang kolosal. Sebab kegiatannya dirancang untuk menyelusuri napak tilas perjalanan Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di Jawa.

Diawali dengan pengambilan air suci di Sendang Banyu Urip, ritual berlanjut dengan lampah ratri (jalan sunyi) menyusuri sepanjang jalan Piyungan, Wot Galeh, Kota Gede, hingga Alun-alun Utara Yogyakarta. Kemudian pentas wayangan pun berlangsung selama sebelas hari. Pada tahun 2011 pementasan wayang diselenggarakan terpusat di Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta, akan tetapi di tahun 2013 berkembang jauh hingga merambah kawasan Pesantren Pandanaran Kaliurang Sleman, lapangan Panggungharjo Sewon bantul, lapangan bekas pasar lama Piyungan, serta di Alun-alun Sewadanan Puri Pakualaman Yogyakarta. Keterlibatan penuh dari masyarakat, kiai, santri, seniman, budayawan, dan akademisi menjadikan acara ini ramai diliput oleh beragam media massa lokal maupun nasional, baik cetak ataupun online.

Lewat kematangan ide dan kekayaan kreativitas, Ponpes Kaliopak telah berupaya mengolah, merevitalisasi, serta memperkenalkan kembali ajaran nilai Sunan Kalijaga dimana Islam dipahami tidak dalam aspek formalnya belaka melainkan justru diberi bentuk baru melalui langgam kesenian. Tidak mengherankan apabila faktanya berabad-abad lampau dakwah Islam yang dilakoni oleh para Wali, salah satunya Wali Sunan Kalijaga, mampu diterima oleh segenap masyarakat Jawa. Sebab medium yang digunakan adalah perangkat tradisi lokal, antara lain berupa syair macapat dan wayang.

Kegiatan peringatan Sunan Kalijaga memang direncanakan akan berjalan secara kontinyu dalam jangka waktu dua tahun sekali oleh Ponpes Kaliopak. Diselenggarakan sebagai usaha untuk mengembalikan pengetahuan masyarakat mengenai peran budaya tradisi dalam dimensi keberagaman Islam yang selama ini nyaris terputus dan terlupakan oleh generasi Indonesia abad 21. Berbekal kedalaman niat itulah, Ponpes Kaliopak terus hidup dan dihidupkan.